<< December 2009 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04 05
06 07 08 09 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30 31


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Jun 27, 2004
"..Menggapai Mahkota Kemuliaan..."

Menggapai  Mahkota   Kemuliaan

 
Sesungguhnya yang aku cintai diantara kalian dan paling dekat kedudukannya denganku pada hari kiamat adalah orang yang paling baik akhlaknya. Dan orang yang paling kubenci dan jauh dariku pada hari kiamat adalah orang yang banyak bicara dan berlagak sombong serta bertele-tele dalam berbicara”. ( HR. Tirmidzi)


Alhamdulillaahirabbil'aalamiin, Allahuma shalli 'ala Muhammad waala aalihi washaabihii ajmai'iin, Saudaraku yang budiman, Maha Terpuji Allah Azza wa Jalla. Dzat yang meiliki segala kemuliaan dan keagungan. Dzat yang teramat sempurna kasih sayang-Nya. Betapapun hamba-hambanya berbuat maksiat dan berkhianat

Namun sampai detik ini kita toh masih merasakan curahan nikmat-Nya. Allah senantiasa menunggu hamba-hamba-Nya yang sesat untuk kembali ke jalan-Nya dan Dia menyediakan ampunan dan rahmat-Nya betapa besar dosa yang dimiliki seorang hamba.

Sahabat kalau ada orang di dunia ini yang paling beruntung, maka sebenarnya bukanlah yang tiba-tiba mendapat harta yang melimpah, isteri yang jelita atau suami yang gagah tampan, serta aneka kenikmatan duniawi lainnya.

Melainkan, ia adalah seorang Muslim/Muslimah yang telah ditetapkan Allah Azza wa Jalla sebagai hamba pilihan-Nya. Ia dicintai Allah. Rasul-Nya, dan orang-orang yang berhak mewarisi surga jannatun na’im. Karena itu, Allah-pun berkenan menganugrahkan mahkota kemuliaan, yang semua orang tidak mendapatkannya.

Siapakah manusia pilihan itu? Ia adalah pribadi yang karena kesempurnaan iman-nya, berhasil mewarisi sifat, sikap, dan kepribadian Rasulullah SAW, sehingga menjadi cermin dan teladan kehidupan bagi orang lain.

Bukankah Rasulullah sendiri adalah teladan umat sebagaimana yang difirmankan Allah, “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengaharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”.? (Q.S Al-Ahzab (33):21)

Rasulullah telah menjadi teladan umat karena dia telah memiliki kesempurnaan iman. Ciri kesempurnaan iman adalah akhlaqul karimah.

Karenanya, insan yang telah mewarisi sifat, sikap, dan kepribadian Rasulullah, tidak bisa tidak, pasti memiliki akhlak yang mulia karena rasulullah sendiri pernah bersabda, “Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling mulia akhlaknya”. ( HR. Tirmidzi )

Dengan demikian, akhlaqul karimah tak diragukan lagi merupakan tolak ukur yang paling utama apakah ia telah menjadi insan pilihan Allah atau belum.

Maka, kita pun dapat bercermin pada diri sendiri, adakah kita telah layak menjadi insan pilihan-Nya. Marilah bertaffakur karena siapa tahu kita saat ini tengah menempuh suatu jalan yang dapat mengantarkan kita untuk dapat menggapai mahkota kemuliaan, atau sebaliknya, tengah menuruni lembah menuju kehinaan.

Wallahu'alam (and/fyqn/yna)

 


Posted at 12:43 am by dedistuta
Make a comment  

Episode Hidup...

Menikmati  Setiap  Episode   Hidup
 


"Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat-menasehati supaya menaati kebenaran dan nasehat-menasehati supaya menetapi kesabaran." (QS. Al-Ashr (103):1-3)

Alhamdulillaahirabbil'aalamiin, Allahuma shalli 'ala Muhammad waala aalihi washaabihii ajmai'iin, Saudaraku yang budiman, langkah awal agar kita mampu menikmati setiap detik hidup ini, adalah dengan menumbuhkan sikap ridha (rela menerima kenyataan). Kebahagiaan dan kesedihan, keuntungan dan kerugian, akan terasa nikmat dengan sikap ridha. Mengapa demikian?

Kesengsaraan hidup walaupun dihadapi dengan sikap dongkol uring-uringan, keluh kesah, tetap saja kenyataan sudah terjadi. Pendek kata, disesali ataupun tidak, ridha maupun terpaksa, tetap saja kenyataan itu sudah terjadi dan dialami. Jadi, lebih baik hati kita ridha menerimanya.

Tentu saja ridha terhadap kenyataan yang dialami, bukan berarti pasrah total, sehingga tidak bertindak apapun. Itu keliru, ridha itu amalan hati, sedangkan pikiran dan tubuh kita wajib ikhtiar untuk memperbaiki kenyataan dengan cara yang diridhai Allah. Kondisi hati yang ridha sangat membantu menjadikan proses ikhtiar menjdi positif, optimal dan bermutu.

Saudaraku, orang yang stress adalah orang yang tidak memiliki kesiapan mental menerima kenyataan yang ada. Pikiranya tidak realitis, tidak menerima kenyataan dan tidak berpijak kepadanya. Sibuk menyesali sesuatu yang sudah terjadi. Sungguh, suatu kesengsaraan dan kepedihan hidup yang dibuat sendiri.

Oleh karena itu, sadarilah hidup kita ini terdiri dari berbagai episode yang tidak monoton. Kenangilah perjalanan hidup anda, ambilah kearifan dari setiap episode yang anda telah lalui. Kenanglah dengan kelapangan dada, dinginnya emosi, dan keikhlasan. Tidak ada gunanya menyelimuti kenyataan hidup ini dengan keluh kesah. Itupun tidak menyelesaikan masalah, bahkan menambah luka yang anda alami. Tetapi atasi dengan hati yang ridha, sehingga kita menikmati setiap episode hidup kita sambil berikhtiar memperbaiki kenyataan pada jalan yang Allah ridhai. Wallahu'alam bish shawab

 


Posted at 12:18 am by dedistuta
Make a comment  

Bismillaahirrahmanirrahiim...

"Al-Qadir" Yang Maha Kuasa
 
Bismillaahirrahmanirrahiim,

Alhamdulillah wa shollatu wassalamu ala Rosuulillah, Puji Syukur Kehadirat Allah SWT Curahan rahmat-Nya kita mohonkan untuk junjugnan kita Nabi Muhammad SAW beserta keluarga serta sahabat sahabat beliau.

Manusia pada dasarnya bertanya apakah kuasa Tuhan itu ada batasnya? Tetapi pada umumnya orang akan berkata bahwa kuasa Tuhan tidak ada batasnya. Kemudian apakah Tuhan dapat menciptakan sesuatu yang mustahil? Umumnya orang akan menjawab bisa.

Hal-hal Mustahil pada dasarnya dapat dibagi menjadi dua macam, ada yang menurut kebiasaan dan menurut akal. Misalkan Tuhan tidak dapat menciptakan yang sama seperti DIA. Oleh karena itu kuasa Tuhan pada dasarnya terbatas. Menurut Profesor Rasyidi dalam "Filsafat Agama" banyak orang keliru ketika berkata bahwa kuasa Tuhan terbatas. Sebenarnya Kuasa Tuhan terbatas karena tidak mungkin menciptakan sesuatu yang mustahil yang diluar akal misalkan menciptakan Tuhan lain yang seperti Tuhan.

Tuhan tidak mungkin menciptakan sesuatu yang wujud dan tidak wujud sekaligus. Hal tersebut adalah sesuatu yang mustahil. Ini adalah makna kebahasaan, walaupun kalau kita ukur diri kita ketika kita berbicara tentang kuasa ALLAH. Kalau kuasa ALLAH kita kaitkan dengan mahluk Allah maka kuasa-Nya melampaui batas yang tergambar dalam benak manusia. Tetapi pada hakekatnya kekuasan-Nya terbatas misalkan Tuhan tidak menciptakan api yang digunakan untuk memasak juga tidak membakar.

Kembali kepada sifat Tuhan AL-Qadir, Al Muqtadiir. Contoh yang dapat diberikan adalah seperti kita sering membaca Ar-Rahmaan dan Ar-Rahiim. Ada perbedaan pendapat para ulama menyangkut perbedaan antara Rahman dan Rahiim. Namun kesimpulannya adalah Ar-Rahman memiliki pola kata yang berbeda dengan Rahiim. Salah satu makna perbedaannya adalah pada Ar-Rahiim, kata ini seperti sifat yang dimiliki dan melekat pada seseorang atau sesuatu, tetapi Ar Rahman berarti merupakan pelimpahan Rahmat. Seperti orang yang pemarah, hal itu adalah sifat yang melekat pada dirinya, apakah dia akan selalu marah? Dan demikian juga dengan sifat pemurah seseorang maka dia tidak akan selalu bersifat pemurah, sewaktu waktu dia akan bersifat kikir.

Kalau kita berkata Rahiim maka itu adalah sifat yang melekat pada Dzat Tuhan, kalau kita berkata Rahmaan maka itu adalah pelimpahan rahmat tuhan. Maka Bismillahirrohmaanirrohiim artinya adalah "Dengan nama Allah yagn memiliki sifat rahmat dan sekaligus melimpahkan rahmat".

Dengan demikian pola kata 'Alim dan Qadir, menggambarkan sifat yang melekat pada diri Tuhan. Namun ada perbedaan pada kata Qadir dan Muqtadir. Jika kita merujuk kepada ayat-ayat Al-Quran maka kita menemukan bahwa inilah kuasa ALLAH, seperti yang terdapat pada ayat "Innallaha 'ala kulli syaiin qadiir" yang mencakup segala sesuatu. Dahulu, kaum musyrik antara lain tidak percaya adanya hari kebangkitan. Salah satu alasannya adalah karena Tuhan tidak kuasa menciptakan kembali mahluk yang sudah menjadi tulang belulang. Dalam Surat Yasiin "Awalaisaladzi khalakassamaawati wama fil ardh biqaadirin".

Jika kita dalami lebih lanjut, ALLAH yang Qadir ini belum tentu mewujudkan apa yang Dia kuasa wujudkan. Sedangkan apa yang Dia kuasa wujudkan baru akan wujud jika Allah menginginkannya. Oleh karena itu, ada hal-hal yang diwujudkan oleh ALLAH sebenarnya Dia kuasa wujudkan lebih bagus dan lebih baik dari itu, Alam raya ini diwujudkan oleh ALLAH dalam waktu 6 hari. Kalau kuasa- Nya maka ALLAH dapat mewujudkan nya dengan lebih cepat. Jadi itulah sebabnya Imam Ghazali di kritik ketika mengatakan "Laisa Fil Inkaan abda'u mim makaan" yang artinya, tidak bisa terjadi lebih baik lagi dari apa yang telah terjadi.

Kita diperintahkan oleh Rasul untuk meneladani sifat-sifat ALLAH. Tahallaqu bi ahlaqillah " berahlaklah kamu dengan sifat sifat Tuhan, sesuai dengan kemampuan kita sebagai mahluk. Jika kita angkat sifat sifat ALLAH, misalkan Rahmaan maka kita harus selalu meneladani sifat Rahmaan Tuhan sebagai mahluk, kita juga harus menjadi kuat sesuai dengan sifat ALLAH. Beragama itu adalah upaya manusia meneladani sifat sifat ALLAH sesuai dengan kemampuannya sebagai mahluk. ALLAH 'Aliim atau maha mengetahui untuk itu kita harus belajar sehingga kalau bisa kita mengetahui segala sesuatu.

Apa yang kita gambarkan tentang kuasa Allah maka sebenarnya ALLAH lebih maha kuasa dari pada apa yang kita dapat bayangkan. Karena apa yang kita anggap sempurna dalam benak kita itu masih sangat terbatas, sesungguhnya ALLAH tidak seperti itu.

Alhamdulillaahirobbil’alamin

 


Posted at 12:12 am by dedistuta
Make a comment  

CEMAS MENDATANGI HATI

Bila  Cemas   Mendatangi    Hati
 
 
Alhamdulillaahirabbil 'aalamiin, Allahuma shalli 'ala Muhammad wa'ala aalihi washahbihii ajmai'iin. Saudaraku yang budiman, kita janganlah pernah bermimpi dapat hidup dengan tenang dan bahagia sekiranya kita belum memiliki ilmu yang benar untuk mengarungi belantara dunia yang penuh dengan jebakan, rintangan dan ancaman berbahaya ini.

Cobalah tengok bagaimana kisah tarzan; semua hal yang mungkin dapat menyulitkan dan menyengsarakan, ternyata hal yang mudah saja bagi sang tarzan. Karena ia memiliki kunci pokok untuk mengatasi semua masalah dan kebutuhannnya tersebut, yakni ilmu. Ya tarzan tahu ilmu tentang seluk beluk hutan dan cara mengatasinya.

Tapi bandingkan dengan orang yang masuk ke hutan tanpa tahu seluk beluk hutan, tidak tahu cara menembusnya dan bagaimana menundukan binatang buas yang berkeliaran, niscaya dirinya akan dicekam perasaan tidak tentram, cemas, was-was, dan serba takut, walaupun dia berbekal ransel penuh dengan makanan, minuman, pakaian tahan dingin, dompet penuh uang serta senjata lengkap, tetapi karena tidak berbekal ilmu maka tetap saja kecemasan mendatangi hatinya.

Jadi apa sebenarnya ilmu untuk mengatasi rasa cemas dan was-was tadi? ilmunya hanyalah satu saudaraku, yakni ilmu dari Allah, dzat yang menciptakan dunia beserta segala isinya. Itulah Al Islam, dengan pedoman pokoknya berupa Al Qur’an dan As Sunnah. Semua rahasia kehidupan dunia dan akhirat dibeberkan dengan sempurna dan cermat di dalamnya, sehingga tidak ada satupun urusan, kecuali mesti ada rahasia jalan keluarnya.

Dengan demikian, kalau toh hidup ini kerapkali dicekam perasaan yang kacau balau dan menyengsarakan, maka penyebab pokoknya adalah karena kita kurang memahami ilmu dengan benar.

Dalam sebuah hadits dinyatakan, pada suatu ketika datanglah seseorang kepada Ibnu Ma’ud r.a, sahabat Rasulullah saw, untuk meminta nasihat. Wahai Ibnu Mas’ud, “ujarnya“ "berilah nasihat yang dapat kujadikan obat bagi jiwaku yang sedang dilanda kecemasan dan kegelisahan. Dalam beberapa hari ini aku merasa tidak tentram.Jiwaku gelisah dan pikiran pun serasa kusut, makan tak enak, tidur pun tidak nyenyak.”

Mendengar hal itu, Ibnu Mas’ud kemudian menasehatinya “Kalau penyakit seperti itu yang menimpamu, maka bawalah hatimu mengunjungi tiga tempat, yaitu ke tempat orang membaca Al Qur’an, kau baca Al Qur’an atau dengarkanlah baik-baik orang yang membacanya; atau pergilah ke majelis pengajian yang mengingatkan hati kepada Allah; atau carilah waktu dan tempat yang sunyi, kemudian berkhalwatlah untuk menyembah-Nya, misalnya di tengah malam buta, ketika orang-orang sedang tidur nyenyak, engkau bangun mengerjakan shalat malam, memohon ketenangan jiwa, ketentraman pikiran dan kemurnian hati kepada-Nya. Seandainya jiwamu belum terobati dengan cara ini, maka mintalah kepada Allah agar diberi hati yang lain karena hati yang kau pakai itu bukanlah hatimu.

Setelah orang itu kembali ke rumahnya, diamalkannyalah nasihat Ibnu Mas’ud tersebut. Dia pergi mengambil air wudhu. Setelah itu, diambilnya Al Qur’an, kemudian dibacanya dengan hati yang khusyuk. Selesai membaca Al Qur’an, ternyata jiwanya berubah menjadi sejuk dan tentram, pikirannya pun menjadi tenang, sedangkan kegelisahannya hilang sama sekali. Wallahu a’lam

 


Posted at 12:06 am by dedistuta
Make a comment  

Jun 26, 2004
"..KEINDAHAN KESEDIHAN.."

Menyelami Keindahan Kesedihan

Tidak bisa ditolak, tidak bisa diusir, apa lagi dipasangi pagar besi, ada saat-saat di mana sahabat kehidupan yang bernama kesedihan datang berkunjung. Ada saja jalan dan cara yang menyebabkan kesedihan datang berkunjung. Itu juga yang kadang terjadi dalam sepenggal perjalanan kehidupan saya.
Kematian Ayah, Ibu dan Ibu mertua dalam rentang waktu yang tidak terlalu lama sempat membuat tumpahnya air mata yang tidak sedikit. Lebih-lebih sebagai anak bungsu yang mengenal orang tua dalam kurun waktu yang paling pendek. Ada rangkaian hutang yang belum puas untuk dibayar. Ada hawa-hawa rindu seoramh anak yang belum sepenuhnya terobati. Tetapi apapun yang terjadi, tetap perpisahan di tingkat tubuh fisik melalui kematian harus dijalani.

Ketika masih menjabat sebagai CEO sebuah perusahaan dengan dua ribuan karyawan, pernah ada seorang teman lama dan dekat yang br>Ketika masih menjabat sebagai CEO sebuah perusahaan dengan dua ribuan karyawan, p>head hunter), dan penawarannya ditawar, ternyata niat untuk minta discount berujung pada surat putus hubungan. Dan ketika dihubungi lewat telepon, kata-kata yang muncul tidak membukakan pintu maaf. Lagi-lagi kesedihanberkunjung.
Demikian juga tatkala seorang sahabat mengirimkan e-mail karena tersinggung akibat serangkaian miskomunikasi yang dilakukan anak buah. Hanya karena persoalan sponsorshi hampir saja saya kehilangan seorang sahabat. Dan untungnya sang kesabaran menuntun saya untuk menelpon, mendengarkan, meminta maaf dan akhirnya bisa diselesaikan. Namun, kesedihan terlanjur mengintip di pintu kehidupan sana.
Ada memang teman yang menyebut kehidupan demikian dengan kehidupan yang terlalu sensitif. Dan apapun sebutannya, tidak ada orang yang bisa menolak berkunjungnya kesedihan.

Di beberapa bagian dunia, ada masyarakat yang menyebut kesedihan sebagai akibat dari perbuatan buruk sebelumnya atau di masa lalu. Ada masyarakat lain yang menyimpulkannya sebagai hukuman. Sehingga kesedihan muncul dengan wajah yang menakutkan dan menyedihkan. Dan larilah manusia jauh-jauh dari sahabat kehidupan yang bernama kesedihan. Semakin jauh manusia lari dari kesedihan, semakin cepat sahabat kesedihan mengejarnya dari belakang.
Disebut sahabat, karena kesedihan tidak selamanya seperti musuh yang senantiasa membawa batu, palu dan pisau untuk menyakiti. Dalam sinar-sinar kejernihan, kesedihan bisa membawa bunga-bunga kebijaksanaan, kedewasaan, kearifan dan kematangan. Meminjam bahasa Kahlil Gibran dalam The Prophet, ketika kita bercengkerama dengan kebahagiaan di kamar tamu, kesedihan sedang menunggu di tempat tidur. Tidak bisa kita lari terlalu lama dari sahabat serumah. Dan bukankah ini sejenis kedewasaan, kearifan dan kematangan yang ditunjukkan wajahnya oleh sinar-sinar kesedihan ?

Dalam bentuknya yang lebih indah lagi, kesedihan bisa juga menjadi lilin terang yang menerangi beberapa wilayah gelap (blind spot) yang selama ini tidak terlihat. Kematian orang-orang tercinta, sebagai contoh, awalnya memang menghadirkan air mata, tetapi belakangan jadi tahu kalau orang-orang yang sudah tiada memiliki peran-peran yang jauh lebih besar dari yang pernah terbayangkan. Dipecat teman, sebagai contoh lain, membukakan cakrawala bagi saya, kalau ada orang yang tersinggung kalau penawarannya ditawar. Sahabat yang tersinggun juga demikian, ia membimbing kita untuk tahu sumber-sumber ketersinggungan orang lain.
Ada lagi keindahan lebih tinggi yang dihadirkan kesedihan. Hanya dengan kesedihanlah wajah kebahagiaan muncul lebih indah kemudian. Bahkan, kebahagiaan yang biasa-biasapun bisa berwajah indah ketika manusia baru saja melewati kesedihan. Sebutlah nasi putih sama sayur asem saja, ia terasa enak sekali begi perut yang baru melewati rasa sedih akibat kelaparan. Sebagai bukti lain, orang-orang yang pernah bersedih, menikmati kebahagiaannya dengan kualitas rasa syukur yang jauh lebih baik.

Di puncak dari semua itu, kesedihan membawa manusia pada kualitas kehidupan tinggi yang bernama kesabaran. Dan dengan kesabaran, bukankah manusia bisa menyeberangi lautan kehidupan yang paling dahsyat sekalipun ? Gelombang pasang perceraian, perkelahian di pinggir jalan, peperangan antarsuku dan antarnegara, perpecahan kepemilikan perusahaan hanyalah sebagian contoh samudera kehidupan yang bergejolak, namun bisa diseberangi dengan perahu kesabaran.
Berkaca dari semua ini, tubuh manusia memang manja sekali. Buktinya selalu menolak datangnya kesedihan. Namun, suara-suara kejernihan bertutur lain, kesedihan juga ladang-ladang luas keindahan. Kesedihan tidak saja membawa clurit menakutkan, tetapi juga membimbing ke rangkaian kualitas yang tidak bisa dilakukan oleh kebahagiaan yang paling tinggi sekalipun.
Entah siapa yang membimbing, tiba-tiba di tengah suasana sedih akibat seorang sahabat tersinggung, tangan-tangan ini seperti menulis sendiri di atas key board komputer. Begitu berhenti sebentar, tiba-tiba mengambil buku Deepak Chopra yang berjudul The Deeper Wound, dan di salah satu bagian covernya berisi tulisan sederhana : true self contains the light that no darkness can enter. Diri ini yang sebenarnya berisi sinar yang tidak bisa dikalahkan kegelapan manapun. Dan kesedihan, sebagaimana proses kontemplasi di atas, adalah salah satu kekuatan yang bisa membuat sinar tadi mulai bercahaya secara perlahan. Sudahkah Anda menemukan cahaya tadi melalui perahu kesedihan

 

 


Posted at 11:37 pm by dedistuta
Make a comment  

LIFE Of JOY...JOY Of LIFE

Life of Joy, Joy of Life

Bagi banyak sekali sahabat, lagu anak-anak mungkin hanya untuk konsumsi anak-anak saja. Tidak ada makna yang bisa ditarik dari sana. Cuman, bagi pencinta-pencinta kejernihan yang berjalan dengan membawa telinga-telinga kepekaan, tidak sedikit makna dan pelajaran yang tertanam. Sebutlah lagu anak-anak dengan bait pertama, "Di sini senang, di sana senang, di mana-mana hatiku senang" ia tidak saja menghadirkan tepukan tangan, goyangan pinggul, senyuman bibir yang lebar, tetapi juga menghadirkan getaran-getaran dari dalam yang mengagumkan. Bagaimana tidak bergetar, masa lalu memang sudah lewat, masa depan belum datang, dan di hari ini yang ceria ini kita diajak mensyukuri apa saja yang dialami. Tanpa tahu ke mana, berakhir di mana, semuanya dibungkus dalam sebuah kalimat: "Di sini senang, di sana senang." Bukankah hidup kemudian jadi bergetar?

Getaran-getaran terakhir, dalam bahasa fisika disebut energi. Tidak saja manusia yang menyimpan dan mengelola energi, semua yang ada di semesta ini hanyalah kumpulan energi. Dari batu, pohon, binatang, air semuanya hanyalah kumpulan energi. Dalam pandangan-pandangan mikrokospik, semua tadi bergerak, bergetar dan bervibrasi.

Ada sahabat yang mengandaikan seperti bola lampu dan listrik. Ketika bola lampunya tidak menyala, bukan berarti listriknya tidak ada. Tatkala lampunya menyala, bukan berarti listriknya hanya sekuat nyala lampu. Ada bagian-bagian dari energi yang terlihat, ada bagian-bagiannya yang tidak terlihat. Hal yang sama juga terjadi dalam interaksi antarmanusia. Ada bagian-bagian terlihat, ada yang tidak terlihat. Dan energi, ia tersembunyi ke dalam bagian yang tidak terlihat, namun menentukan. Sebutlah orang yang cocok, akur, bersalaman dan berpelukan, pertukaran energinya halus mulus. Sebaliknya mereka yang bertengkar, pertukaran energinya ditandai oleh hawa panas dan pengap.

Perhatikan kumpulan manusia yang terkumpul dalam team yang mengagumkan, atau organisasi dengan kinerja jempolan, hampir semua ditandai oleh pertukaran-pertukaran energi yang cantik, indah dan mengagumkan. Sesekali ada hawa panas, cuman kebanyakan waktu diisi oleh pelukan-pelukan kesejukan energi. Di tingkatan negara juga serupa, negara dengan kinerja hidup yang mengagumkan, dihadiri oleh hawa-hawa permusuhan dalam derajat yang terbatas. Pertanyaan yang muncul dari sini, adakah cara yang tersedia agar energi ini terkelola secara memadai ?

Seorang peneliti energi bernama Valerie Hunt dalam Infinite Mind menyebutkan, energi manusia terbatas. Sedangkan energi-energi ilahi selalu tidak terbatas. Hipotesa yang diajukan Hunt sederhana, siapa saja yang melakukan apa saja dengan energi-energi ilahi, ia memasuki wilayah-wilayah tidak terhingga. Albert Einstein pernah menulis, hanya ada dua hal yang tidak berhingga: semesta dan kebodohan manusia. Spekulasi yang kemudian muncul dari sini, mungkinkah manusia jadi memasuki wilayah tidak berhingga dengan sedikit lebih "bodoh"? Meminjam argumen seorang sahabat fisikawan, hampir semua model matematika yang berkembang di awal abad ke-21 dibangun di atas persamaan 1 : 0 = tidak berhingga. Yang satu (dalam bahasa spiritualitas) jelas siapanya, sedangkan siapa saja manusia yang bisa mendekati angka nol, ia mulai memasuki wilayah-wilayah tidak berhingga.

Lebih-lebih kalau semua ini ditambahkan dengan keyakinan Stephen Hawking yang menyebut kalau akal sehat hanya bisa dipakai untuk menerangkan hal-hal dengan kecepatan terbatas. Sedangkan cahaya, ia terlalu cepat untuk bisa dimengerti oleh akal sehat. Dalam bentangan sinar pemahaman seperti ini, sepertinya limpahan energi (lebih-lebih yang tidak berhingga) lebih mungkin dicapai oleh orang "bodoh" (baca: not knowing mind). Secara lebih khusus, karena melalui kebodohan manusia tidak dipagari secara berlebihan oleh pikiran. Seperti pernah ditulis seorang sahabat di dunia kejernihan, ketika manusia tidak mengerti, pohon adalah pohon. Ketika manusia mengerti, pohon tetap juga pohon.

Seperti mau bertutur, pengertian maupun ketidakmengertian manusia tidak merubah apa-apa. Energi tetap energi. Kembali ke cerita awal tentang lagu anak-anak dengan lirik lagu "di sini senang di sana senang", kualitas getarannya di dalam lebih baik pada kehidupan anak-anak karena mereka masih terlalu "bodoh". Seperti sedang bertutur, siapa saja yang mau memasuki wilayah-wilayah energi (baca:joy) sebaiknya belajar untuk sedikit lebih "bodoh". Ketika manusia sudah cukup "bodoh", yang ada hanya suka cita. Persis seperti kehidupan kanak-kanak. Masa lalu sudah lewat, masa depan belum datang. Dan hari ini, satu-satunya waktu di mana kebebasan tersedia secara melimpah. "Kebodohan" akan masa lalu dan masa depan ini, kemudian membuat sejumlah manusia dewasa ikut bergetar dengan nyanyian "di sini senang di sana senang".

Mirip dengan nasehat yang pernah diberikan salah seorang guru Miyamoto Musashi, yang hanya menggambar lingkaran ketika ditanya habis-habisan oleh muridnya, demikian juga kehidupan. Mulai dengan kehidupan kanak-kanak yang bergetar, berakhir dengan kehidupan kanak-kanak yang juga bergetar. Bedanya, kanak-kanak di awal bersifat murni, kanak-kanak di akhir telah melalui proses stabilisasi dan pemurnian yang melelahkan. Terutama setelah lama diperkotor oleh pengetahuan, pengalaman yang memperkuda pikiran. Ini yang oleh seorang sahabat disebut Life of Joy, Joy of Life.


Posted at 11:32 pm by dedistuta
Make a comment